Pengajian Rutin Ramadhan : Sunnah Puasa dan Keistimewaannya

Rensing-Pengajian rutin Ramadhan Majelis Taklim Pondok Pesantren Birrul Walidain NWDI Rensing pada hari Jumat, 20 Februari 2026 atau bertepatan dengan 2 Ramadhan 1447 Hijriah berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan kekhidmatan. Sejak pukul 14.00 WITA hingga waktu Asar, jamaah dari masyarakat sekitar, pengurus yayasan, dewan guru, serta para santri memenuhi majelis dengan semangat menuntut ilmu dan memperdalam pemahaman agama di bulan suci yang penuh berkah ini.
Kegiatan pengajian kali ini menghadirkan dua penceramah yang juga pengasuh dan pembina di Ponpes Birrul Walidain Nwdi yakni TGH. Zulkarnain Almusannip, QH., Lc dan Tuan Guru Abdul Aziz, S.Pd. Keduanya menyampaikan tausiah yang sarat makna, menggugah hati, serta memberikan tuntunan praktis dalam menghidupkan bulan Ramadhan dengan amal ibadah yang maksimal.
Pengajian pertama disampaikan oleh Tuan Guru Abdul Aziz, S.Pd. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengkaji Kitab Taqriratus Sadidah dengan pembahasan khusus mengenai sunnah-sunnah dalam berpuasa Ramadhan. Beliau mengawali penjelasan dengan memaparkan definisi puasa, yaitu menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, disertai dengan niat yang khusus karena Allah SWT.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan berbagai sunnah yang dianjurkan dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Di antaranya adalah menyegerakan berbuka ketika telah yakin matahari terbenam atau telah masuk waktu Magrib. Hal ini menunjukkan ketaatan dan kepatuhan terhadap tuntunan syariat. Selain itu, umat Islam dianjurkan untuk makan sahur, meskipun hanya dengan seteguk air, karena di dalam sahur terdapat keberkahan. Waktu sahur dimulai setelah pertengahan malam, dan disunnahkan untuk mengakhirkannya hingga mendekati waktu Subuh tanpa melewati batas. Bahkan dianjurkan untuk melakukan imsak sekitar ukuran bacaan 50 ayat Al-Qur’an atau kurang lebih seperempat jam sebelum Subuh.
Dalam hal berbuka, beliau menjelaskan adab yang sangat rinci sebagaimana disebutkan dalam kitab, yaitu berbuka dengan kurma ruthab (kurma setengah matang) dalam jumlah ganjil. Jika tidak tersedia, maka dengan busrun (kurma hijau), kemudian tamar (kurma kering). Apabila tidak ada juga, maka dengan air zam-zam. Setelah itu dianjurkan mengonsumsi hulwun (makanan manis yang tidak dimasak) seperti zabib (kismis) atau madu, kemudian halwa (makanan manis yang dimasak) seperti kolak dan sejenisnya. Selain itu, membaca doa berbuka juga termasuk sunnah yang tidak boleh ditinggalkan.
Beliau juga menjelaskan Sunnah memberi makan kepada orang yang berbuka puasa karena pahalanya sangat besar. Di antara sunnah lainnya adalah mandi junub sebelum fajar agar dapat memulai puasa dalam keadaan suci, serta mandi setiap malam agar tubuh tetap segar dalam menjalankan ibadah.
Ibadah malam di bulan Ramadhan juga mendapat perhatian khusus. Umat Islam dianjurkan untuk tetap melaksanakan shalat Tarawih setiap malam hingga akhir Ramadhan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa yang mendirikan qiyamul lail (Tarawih) karena iman dan mengharap ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Selain Tarawih, shalat Witir juga hendaknya terus dijaga. Kaum muslimin juga dianjurkan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dengan penuh tadabbur, mengingat Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an (Ramadhan Syahrul Qur’an). Di samping itu, memperbanyak shalat-shalat sunnah seperti shalat Dhuha, Tasbih, dan Awwabin, serta meningkatkan amal saleh seperti sedekah, silaturahmi, menghadiri majelis taklim, i’tikaf, dan memperbanyak doa menjadi bagian dari amalan yang sangat dianjurkan. Terlebih pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, umat Islam dianjurkan memperbanyak zikir dan ibadah, khususnya pada malam-malam ganjil, karena di dalamnya terdapat malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.
Pengajian kemudian dilanjutkan oleh TGH. Zulkarnain Almusannip, QH., Lc yang membahas tentang keistimewaan bulan suci Ramadhan. Dalam tausiyahnya, beliau menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan yang memiliki kemuliaan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya. Pada bulan ini, pahala ibadah dilipatgandakan, doa-doa diijabah, dosa-dosa diampuni, pintu-pintu surga dibuka, dan pintu-pintu neraka ditutup.
Beliau mengibaratkan Ramadhan sebagai tamu agung yang selalu dinanti kehadirannya setiap tahun. Sungguh merugi seseorang yang menjumpai Ramadhan tetapi tidak memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan kepada Allah SWT. Dalam penjelasannya, beliau mengutip hadis riwayat Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرُ بَرَكَةٍ، فِيهِ خَيْرٌ يُغَشِّيكُمُ اللَّهُ [فِيهِ] فَتَنْزِلُ الرَّحْمَةَ، وَتُحَطُّ الْخَطَايَا، وَيُسْتَجَابُ فِيهِ الدُّعَاءُ، فَيَنْظُرُ اللَّهُ إِلَى تَنَافُسِكُمْ، وَيُبَاهِي بِكُمْ مَلَائِكَتَهُ، فَأَرُوا اللَّهَ مِنْ أَنْفُسِكُمْ خَيْرًا، فَإِنَّ الشَّقِيَّ مِنْ حُرِمَ فِيهِ رَحْمَةَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Duhai, telah datang bulan Ramadhan, bulan barakah, yang di dalamnya banyak kebaikan yang meliputi kalian. Maka turunlah rahmat. Berguguranlah segala kesalahan dan dosa. Di dalamnya doa dikabulkan. Maka Allah melihat semangat kalian. Para malaikat juga sangat bangga kepada kalian. Maka perlihatkanlah di hadapan Allah yang terbaik dari jiwa-jiwa kalian. Karena sesungguhnya celaka bagi siapa yang diharamkan rahmat Allah di dalamnya.” (HR. At-Thabarani dalam Targhib wa Tarhib, 2/60)
Di akhir tausiyahnya, TGH. Zulkarnain memberikan pesan yang sangat menyentuh hati. Beliau mengingatkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia (hablum minannas). Jangan sampai ibadah yang kita bangun dengan susah payah rusak karena menyakiti, menzalimi, atau membuat orang lain tersinggung dan sakit hati. Kesalahan terhadap sesama manusia tidak akan mudah terhapus kecuali dengan kerelaan dan maaf dari orang yang bersangkutan. Sementara dosa kepada Allah SWT begitu mudah diampuni selama hamba-Nya mau bertaubat, memohon ampun, dan memperbanyak istighfar dengan sungguh-sungguh.
Pengajian rutin Ramadhan ini pun ditutup dengan suasana penuh haru dan semangat baru. Jamaah pulang membawa tambahan ilmu, motivasi, dan tekad untuk menjadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta mempererat ukhuwah Islamiyah. Semoga keberkahan Ramadhan senantiasa melimpahi seluruh jamaah dan keluarga besar Pondok Pesantren Birrul Walidain NWDI Rensing dan kaum muslimin pada umumnya.
Bagikan Yuuk, mungkin info ini penting buat teman kamu.

Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1447 Hijriah

Sel Feb 24 , 2026
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1447 Hijriah “Semoga di bulan suci ini kita diberikan kekuatan untuk berpuasa, keikhlasan dalam beribadah, dan keberkahan di setiap langkah”. Bagikan Yuuk, mungkin info ini penting buat teman kamu. Baca juga :  Peluang Menarik Bagi Para Guru Honorer di Tahun 2024Artikel Terkait: TGKH. M. Zainuddin […]

Artikel Terkait yang mungkin anda suka: