Birrulwalidainnews–Pondok Pesantren Birrul Walidain NWDI Rensing Kecamatan Sakra Barat, menggelar peringatan Hari Guru Nasional pada Selasa, 25 November 2025. Peringatan tahun ini disusun dalam beberapa rangkaian kegiatan, mulai dari upacara bendera, resepsi guru (teacher’s party), hingga seremonial Hari Guru. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan meriah, penuh khidmat, dan diiringi semangat kebersamaan seluruh civitas pesantren.
Kegiatan ini dihadiri oleh para pengurus yayasan, kepala sekolah dan madrasah, dewan guru, staf pegawai, serta seluruh santri dan santriwati dari berbagai jenjang pendidikan di bawah naungan yayasan, mulai dari RA, MI, MTs, MA hingga SMA. Kebersamaan lintas jenjang ini membuat suasana peringatan semakin semarak dan penuh makna.

Sesi pertama dimulai pukul 07.00 dengan pelaksanaan upacara bendera yang diikuti oleh seluruh peserta dengan mengenakan pakaian khas masing-masing lembaga. Lapangan pesantren menjadi saksi kebersamaan para pendidik dan peserta didik yang hadir tepat waktu, berdiri rapi menunjukkan disiplin dan penghormatan terhadap momen penting ini.
Pada upacara tersebut, Sekretaris Umum Yayasan Pondok Pesantren Birrul Walidain, Nuruddin, M.Pd., bertindak sebagai pembina upacara. Sementara itu, Zulham Iswadi, S.Pd., dipercaya sebagai pemimpin upacara sedangkan pembaca doa dipimpin oleh Tuan Guru Abdul Aziz. Pelaksanaan teknis upacara ditangani sepenuhnya oleh guru-guru yayasan yang ditunjuk, memperlihatkan kekompakan dan profesionalitas para pendidik.
Suasana menjadi semakin hikmat berkat persembahan paduan suara dari santriwati MTs Birrul Walidain yang menyanyikan “Hymne Guru” dan “Jasamu Guru”, sementara tim drumband “Gita Bahana Mabiwa” MA Birrul Walidain turut mengiringi lagu-lagu kebangsaan dengan penuh semangat. Seluruh rangkaian upacara berlangsung lancar, berkat latihan intensif yang dilakukan dua hari sebelumnya.
Dalam amanatnya, Nuruddin menyampaikan pesan mendalam tentang makna Hari Guru Nasional. Ia menegaskan bahwa Hari Guru bukan hanya momen seremonial, melainkan hari untuk mengenang, menghargai, dan memuliakan para pendidik yang telah berjasa besar dalam kehidupan setiap insan.
“Guru bukan sekadar pengajar,” ungkapnya, “melainkan pembimbing jiwa, penuntun akhlak, dan pelita kehidupan di tengah kegelapan.” pungkasnya.

Ia mengingatkan bahwa apresiasi kepada guru seharusnya tidak menunggu momentum peringatan sekali setahun, tetapi ditampilkan setiap hari dalam kegigihan belajar, sopan santun, dan penghormatan. Guru telah mengubah ketidaktahuan menjadi pengetahuan, keraguan menjadi pemahaman, serta kelemahan menjadi kekuatan. Karena itu, menghormati guru adalah bentuk penghormatan terhadap ilmu itu sendiri.
Ia juga mengutip firman Allah dalam Surat Al-Mujadalah ayat 11 yang menegaskan keutamaan orang berilmu: “Niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” Ayat ini menjadi pengingat bagi seluruh peserta bahwa kedudukan ilmu sangatlah mulia, dan guru sebagai pengajar ilmu harus dimuliakan sepanjang hayat.
Lebih lanjut, beliau menyampaikan nasihat ulama besar Abuya as-Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki al-Hasani: “Tsabatul ‘ilmi bil mudzakarah, wa barakatuhu bil khidmah, wa naf’uhu biridha asy-syaikh.” Artinya: “Ilmu melekat dengan banyak mengulang, keberkahannya hadir lewat khidmah, dan manfaatnya diperoleh dengan ridha guru.”
Ungkapan ini menegaskan bahwa ilmu bukan hanya sesuatu yang disimpan di kepala, tetapi harus ditanamkan dalam jiwa melalui adab. Tanpa penghormatan kepada guru, ilmu tidak akan memberikan manfaat yang sempurna.

Hal serupa juga disampaikan oleh Imam Burhanuddin Az-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim: “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya seorang penuntut ilmu (murid) tidak akan bisa memperoleh ilmu dan mengambil manfaatnya kecuali dengan menghormati ilmu dan orang yang berilmu, memuliakan guru dan menghormatinya. Dikatakan (pula bahwa) orang yang sukses (sebenarnya) tidak akan sukses kecuali dengan sikap hormat, dan orang yang gagal (sebenarnya) tidak akan gagal kecuali disebabkan sikap tidak hormat.”
Selain itu Nuruddin juga menggambarkan guru sebagai “petani kehidupan” sosok yang menanam benih pengetahuan, menyiram dengan keteladanan, memupuk dengan doa, dan merawat dengan keikhlasan. Dari tangan para gurulah tumbuh generasi yang memahami benar dan salah, mampu berjalan dari gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu.
Ia menegaskan bahwa seorang guru tidak pernah menginginkan imbalan materi. Kebahagiaan guru adalah melihat muridnya menjadi orang yang beradab, berhasil, bahkan jauh lebih hebat dari gurunya. Jika suatu hari murid melampaui kemampuan gurunya, justru di situlah letak kebanggaan seorang pendidik sejati. Hal itu juga menjadi pertanda kesuksesan guru telah terlihat saat ada muridnya menjadi lebih sukses.
Karenanya, ucapan terima kasih kepada guru tidak harus selalu berbentuk hadiah atau materi. Cukup dengan doa, penghormatan, dan menjaga silaturahmi, hubungan ilmu antara murid dan guru akan tetap tersambung.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga menyinggung fenomena akhir-akhir ini di mana adanya murid mulai kehilangan rasa hormat kepada guru. Ada murid yang membantah, meremehkan, bahkan mempermasalahkan gurunya hingga berujung ke pengadilan hanya karena ketegasan dalam mendidik. Padahal, ketegasan adalah bentuk kasih sayang dan tanggung jawab.
“Guru yang menegur bukanlah musuh,” tegasnya, “guru yang menasehati bukan sedang merendahkan, dan guru yang tegas tidak sedang menyakiti. Semua dilakukan karena cinta dan tanggung jawab.” ungkap Nuruddin.

Ia berharap seluruh santri menjaga adab kepada guru, karena adab adalah pintu keberkahan dan kesuksesan.
Di akhir amanatnya, mantan presiden mahasiswa BEM Universitas Hamzanwadi 2004-2005 ini menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh guru dan tenaga kependidikan yang telah sabar, ikhlas, dan istiqamah membersamai murid dengan berbagai karakter dan dinamika belajar.
“Terima kasih atas dedikasi Bapak/Ibu Guru yang tetap semangat, ikhlas, dan istiqomah menjalani amanah di Pondok Pesantren Birrul Walidain. Semoga setiap langkah dan ilmu yang diberikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga akhirat.” tutupnya.
Usai upacara bendera, para guru di lingkungan Pondok Pesantren Birrul Walidain mengikuti resepsi guru (teacher’s party) dengan menikmati jamuan sarapan bersama yang disiapkan pengurus yayasan sebagai bentuk sukacita dan apresiasi atas jasa besar para guru.
Setelah resepsi guru digelar kemudian para guru dan santri mengikuti seremonial hari guru yang diadakan di masing-masing lembaga pendidikan yang telah disiapkan dengan meriah oleh pengurus OSIS. Beragam acara dilakukan di seremonial hari guru ini mulai dari doa bersama, nasehat kepala sekolah/madrasah, potong kue, atrakasi seni tari dan musik dan lain-lain sebagai persembahan murid pada guru-gurunya.
